Sebuah refleksi oleh: Zia Ulhaq, M.Pd (Guru Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 42 Jakarta)

Dalam benak masyarakat Indonesia, khususnya generasi selain Gen-Z dan Alpha, masih sangat terngiang dengan peristiwa Mei 1998. Peristiwa kerusuhan dan penjarahan yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta. Memori kolektif masyarakat Jakarta akan peristiwa tersebut tentunya tidak mudah hilang dari ingatan, betapa mencekam dan rasa tidak aman yang meliputi pikiran masyarakat kebanyakan saat itu, namun bagi Generasi Z dan mungkin Alpha, memori akan peristiwa tersebut tidak akan sama dengan generasi yang mengalaminya, gen Z yang mayoritas lahir setelah tahun 1998 mungkin masih samar atau bahkan tidak mengetahui sama sekali gambaran akan peristiwa tersebut di Jakarta

Dalam 2 tahun terakhir, Kota Jakarta sering diliputi rasa was-was akibat munculnya peristiwa-peristiwa Demonstrasi besar yang dapat berujung pada kerusuhan. Dalam demonstrasi Agustus tahun 2025 saja,  Kepolisian menahan 351 orang, dimana 196 orang diantaranya merupakan pelajar (www.liputan6.com). Selain itu, pada tahun 2026 polisi juga mengamankan 29 pelajar, imbas dari keikutsertaan mereka dalam kegiatan demonstrasi yang kemudian berkembang dan menewaskan Alm. Bambang (59) seorang pedagang cermin di Pejompongan. 

Sebagai generasi Z, yang tidak mengalami secara langsung peristiwa Mei 1998, kegiatan demonstasi di jalanan mungkin tidak dianggap memiliki resiko yang besar, dan tidak dapat berujung pada kerusuhan. meskipun belum ada teori sosial yang komprehensif untuk membahas anomali pada kerusuhan Agustus 2025, tidak dapat dipungkiri, gen Z baik yang berstatus mahasiswa maupun pelajar, terlibat dan menjadi kekuatan inti dari peristiwa-peristiwa tersebut. Resiko Demonstrasi yang memiliki kemungkinan untuk menjadi kerusuhan harus dipahami generasi muda saat ini melalui informasi-informasi tentang bagaimana pengalaman kita sebagai bangsa, pernah melewati masa-masa mencekam tersebut, salah satunya adalah membaca tentang Peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Berangkat dari hal tersebut, dua orang siswi yang berasal dari SMAN 42 Jakarta, bernama Salsabila dan Muthia berupaya untuk merekonstruksi bagaimana peristiwa kerusuhan Mei 1998 terjadi. Salsabila dan Muthia berupaya melakukan penelitian dengan metode sejarah agar mendapat gambaran yang utuh tentang peristiwa tersebut di sebuah lokasi yang bisa dikatakan sangat jauh dari rumahnya. Pasar perniagaan, sebuah pasar grosir yang sudah hampir lapuk dimakan usia, namun menjadi saksi bisu tentang bagaimana massa dan rakyat melampiaskan kemarahannya dalam bentuk kerusuhan dan penjarahan. Tidak berhenti pada rekonstruksi sejarah, Salsabila dan Muthia juga mencoba memahami, bagaimana strategi para pedagang pasar perniagaan untuk bertahan melewati masa masa sulit pasca mei 1998.

Salsabila dan Muthia melakukan penelitian langsung ke lapangan untuk mewawancarai para penyintas dan saksi mata dalam peristiwa Mei 1998 di Pasar Perniagaan, mereka juga berkali-kali mencari berita-berita sezaman dari media cetak untuk menemukan informasi lebih komprehensif, tidak sampai disitu, mereka berdua melacak keberadaan dokumen-dokumen sezaman yang otoritatif untuk menemukan gambaran peristiwa secara utuh. Kesulitan seringkali mereka temukan, banyak dari narasumber yang menurut mereka, tidak mau menceritakan pengalaman mereka, mereka dengan lantang bilang, untuk apa mengorek kembali luka yang sudah kering, banyak dari narasumber tersebut mengatakan mereka takut untuk bercerita, entah karena tekanan rasa trauma, atau takut akan memberikan mereka masalah di kemudian hari.

Harapan bagi mereka berdua, apa yang mereka buat, dapat menjadi gambaran betapa fatal dan besar dampak kerusuhan yang diawali demonstrasi yang berhari hari, pada sebuah lokasi ekonomis berupa pasar. Kerusuhan yang dibumbui juga dengan rasa sentimen terhadap etnis tertentu menghasilkan banyak kerugian dan tidak berhenti pada satu waktu, penjarahan itu berulang berhari hari selama seminggu penuh. Pasar yang dulu menggerakan ekonomi,  harus menghadapi kerugian yang tidak sedikit, rasa trauma yang menghinggapi para penyintasnya hari ini, tidak dapat dibayar dengan harga apapun, hingga kini. Bahkan untuk bercerita pun, kebanyakan dari mereka tidak sanggup.

Penelitian Salsabila dan Muthia ini bisa menjadi pengingat, khususnya bagi para generasi yang tidak  mengalami langsung peristiwa Mei 1998, bahwa skala kerusakan dan kerugian peristiwa Mei 1998 sangatlah besar, menghubungkan generasi yang menjadi penyintas Mei 1998 di pasar perniagaan kepada khalayak dan masyarakat, juga diharapkan mampu menjadi pengingat, bahwa harga mahal yang dibayar oleh bangsa ini ketika terjadi kerusuhan, seringkali menyasar pada golongan orang-orang yang sejatinya tidak terlibat secara langsung, seperti para pedagang pasar Perniagaan. Pelajar dan generasi muda pada akhirnya harus menginsyafi bahwa aksi-aksi demonstrasi mereka di jalanan seringkali dijadikan sebagai sarana orang yang tidak bertanggungjawab untuk memperkeruh suasana dan akhirnya menjadikan rakyat yang harus menanggung bebannya.